Pak Marno

21 Jun

What a full day…

Hari ini tidak seperti hari Senin biasanya, aku bangun terlambat karena memang tidak ada jadwal mengajar. Siswa-siswi  SMUK 2 BPK Penabur Bandung beserta guru dan staff sedang liburan ke Bali. Sebenarnya, aku juga belum pernah ke Bali, tapi ya karena jatah tunjangan aku sedikit sekali, apa daya.. batal lagi deh rencana ke Bali. Hari ini aku awali dengan saat teduh, tema yang diangkat cukup bagus, yaitu mengenai kesabaran. Yah, akhir2 ini aku memang diajarkan tentang kesabaran ekstra menghadapi sesuatu, termasuk menghadapi diri aku sendiri.

Penelitian di kampus berjalan sebagaimana mestinya, sudah ada target yang harus dicapai, dan tercapai. Setelah itu, facial di salon Auraku, yah demi wajah bersih dan sehat, kurelakan lah kulit wajahku ini merah merona gara-gara dipencet2 sama Mba yang di salon. Lalu, aku ikut rapat Pelkes (Pelayanan Kesaksian). Nah, dari sinilah aku dapat banyak hal hari ini, termasuk kisah Pak Marno di desa Ciherang.

Kami anggota tim Pelkes memiliki kerinduan untuk membuka Pos pelayanan baru untuk gereja GPIB Bethel Bandung, hal ini dimaksudkan untuk menjangkau jiwa-jiwa di pedalaman sana yang belum mengenal Kristus sebagai Juruselamat. Ada beberapa anggota kita yang sudah survey disana dan mendapati siapa2 saja yang nampaknya antusias mengenal Yesus sebagai Tuhan. Salah satunya adalah Bapak Marno. Aku tidak begitu mengenal Bapak ini dengan baik, karena memang belum bertemu muka, tapi ketetapan hati mengikut Kristus itu yang menyentuhku. Desa Ciherang adalah desa yang terpencil yang mayoritas penduduknya hanya memiliki agama KTP, tidak dipraktekan, dan tentu saja tidak punya harapan. Ketika tim pelayanan singgah ke sana, Bapak Marno lah angkatan pertama yang menerima Yesus dan langsung percaya, setelah itu dia mulai memberitakan Injil kepada keluarganya dan kerabat2nya di desa, sampai2 ketua RT nya pun dia Injili, itulah sebabnya rumah Pak Marno mendapat perizinan untuk mengadakan kebaktian di rumahnya sebagai pos Pelkes yang baru. Semangat ini kita dapati pada jemaat mula-mula umat Kristiani, dahulu tidak ada rasa sungkan atau ragu dalam pemberitaan Injil. Jauh berbeda dengan keadaan di perkotaan sekarang ini.

Akan tetapi, aku bersyukur mendapatkan pengalaman melihat jauh ke dalam lubuk hati Pak Marno, begitu bersukcita mendapatkan harapan. Harapan akan keselamatan setelah kematian, ataupun keselamatan ketika kita menghuni dunia ini.  Aku berkata pada hati ini, apakah aku siap untuk mandat yang telah Tuhan berikan? menjadi terang dalam kegelapan dan tidak ada keraguan sedikit pun. Setidaknya hari ini aku berkaca dari kehidupan Pak Marno, tentang ketulusan dan kepolosannya, justru itulah yang paling hebat di dunia ini. Aku berharap Tuhan mau mengajarku banyak hal agar aku lebih rendah hati memenuhi semua panggilan-Nya kepadaku.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.