Data Depdiknas tahun 2007/2008 menyatakan bahwa hanya sekitar 20 persen guru tingkat TK dan SD yang telah dinyatakan layak menjadi guru oleh pemerintah karena terdaftar sebagai guru tersertifikasi. Sejumlah lainnya dinilai tidak kompeten dan minim ilmu bahkan diduga menjadi penyebab bagi keterpurukan bangsa selama ini. Realitas yang sangat memprihatinkan karena terbentang suatu fakta lain yaitu sekitar satu juta sarjana terdidik di Indonesia masih sulit mencari pekerjaan. Pertanyaan yang timbul adalah jika hanya dilihat dari segi kompetensi pendidikan saja, ternyata masih banyak sumber daya manusia yang belum termanfaatkan dengan baik, lalu kemanakah para sarjana terdidik Indonesia? Kalau hanya untuk mendidik tingkat sekolah dasar apalagi taman kanak-kanak tentulah mereka akan bisa melakukannya. Masalahnya, hal menjadi guru bukan hanya kualitas pendidikan, tapi juga panggilan jiwa. Mari kita cermati kedua contoh guru yang selama ini merajai bumi Indonesia ini.
Seorang guru di daerah terpencil yang hanya lulusan SMP dengan berani mengajarkan murid-murid di tingkat sekolah dasar. Tidak pernah terpikir olehnya untuk lulus sertifikasi sampai tingkat sarjana. Mereka tidak pernah memikirkan berapa tunjangan yang akan mereka dapatkan, hanyalah suatu pemikiran logis bagaimana menghasilkan manusia yang mampu membaca, menulis dan berhitung agar kelak dapat menghitung untung rugi dalam kehidupan ini. Suatu pemikiran yang sederhana, usaha yang keras, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam hal ilmu mereka adalah manusia yang minim, tetapi dalam moral mereka berlimpah. Lalu bagaimana manusia hasil didikan jenis guru yang seperti ini? Walau bagaimanapun, manusia belajar dari sebuah teladan dan tidak dapat terpungkiri bahwa manusia yang sarat akan moral dan budi pekerti adalah manusia yang utuh, tangguh, dan mampu bertahan dalam kehidupan ini. Seorang guru yang memberikan teladan hidup dan budi pekerti lebih besar artinya bagi seorang murid. Dari keteladanan itulah lahir suatu motivasi untuk menuntut ilmu secara benar dan sungguh.
Sekarang, kita tengok seorang guru yang tinggal di sebuah kota besar. Seorang guru yang telah mengenyam bangku pendidikan hingga sarjana dan tersertifikasi. Kesukaan nya adalah mengadakan les-les di luar sekolah karena lebih menguntungkan bagi kehidupannya. Orientasi yang ada dibenaknya adalah kepentingan pribadi. Guru hanya menjadikan murid sebagai objek bukanlah subjek dari pelayanan mereka. Marilah kita cermati kualitas sebagian besar sekolah di perkotaan sekarang ini yang telah kehilangan hakekat dari pendidikan itu sendiri. Menjamurnya budaya menyontek di kalangan murid demi untuk dinilai mampu, atau parahnya pihak sekolah pun mendukung usaha kecurangan tersebut dalam berbagai bentuk agar prestise sekolah tetap dianggap bermutu. Tidak jarang kita temui kasus kebocoran soal ujian, hanya karena kepala sekolah yang mau disogok sejumlah uang oleh orang tua murid. Dan banyak hal lain yang dilakukan oleh guru-guru bersertifikasi dan dianggap telak layak menjadi guru. Manusia didikan guru macam ini kebanyakan adalah manusia yang terbeban, bingung, bahkan mencemooh pendidikan. Kebanyakan malas untuk belajar dan tidak menyadari seberapa penting arti pendidikan itu dalam kehidupan mereka. Hanya beban rutinitas yang membosankan.
Guru, adalah pribadi unik yang merupakan orang-orang tepilih dari Yang Maha Kuasa yang maknanya telah melahirkan manusia-manusia sukses bahkan gagal. Hendaklah setiap guru meninjau ulang pribadi mereka dan tetap menetapkan diri pada tujuan mulia mereka sebelumnya, untuk menjadi seorang pribadi yang layak diteladani baik dari pengetahuan maupun budi pekertinya agar menjadi guru yang benar-benar layak.
My comments